Kisah Fauzi berbisnis konveksi

PROFIL
No. 46, Tahun X, 21 Agustus 2006

Sejelas Peluang Kaus Kelas
Kisah Fauzi berbisnis konveksi

Fauzi memulai bisnis konveksinya dari membikin kaus seragam untuk murid-murid sekolah. Sekarang, ia sudah punya 55 unit mesin jahit plus merangkul puluhan klien perusahaan besar.

Kendati tidak tampak luar biasa, jangan sepelekan bisnis kaus kelas. Kaus seragam ini, lazimnya, dipesan oleh murid-murid dalam satu kelas atau satu sekolah sekadar memperlihatkan kebersamaan mereka. Nah, tidak sedikit pengusaha yang mendulang sukses dari ikatan emosi anak sekolah ini. Salah satunya adalah Fauzi Ishak yang membangun usaha konveksinya dari membikin kaus kelas seperti ini.

Saat ini Fauzi memiliki usaha konveksi bernama BEKaos. Meski menyandang nama kaus, Fauzi justru lebih banyak menggarap seragam untuk perusahaan. “Sekitar 80% pekerjaan saya sekarang adalah menjahit uniform,” tutur bapak dari tiga anak ini. Misalnya, ia baru merampungkan pesanan dari Garuda Maintenance Facility senilai Rp 1,2 miliar. Selain itu, menurut Fauzi, ia juga menggarap seragam KPC, Freeport, Trakindo, serta Aerowisata Catering.

Untuk mengerjakan pesanan kaus, Fauzi memiliki 55 unit mesin jahit. Jika seluruh kapasitasnya dikerahkan, Fauzi mempekerjakan sekitar 70 orang karyawan. “Tapi, dalam kondisi sekarang, memang jarang penuh. Paling cuma 35 mesin saja yang jalan,” celetuknya.

Ia juga punya cara sendiri untuk meladeni pelanggan yang memesan ribuan baju dengan tenggat mepet. Kebetulan, keluarga besar Fauzi punya usaha konveksi serupa di Bandung. “Jadi, saya potong di sini, lalu saya bagikan ke Bandung,” jelas Fauzi yang pernah menggarap 50.000 potong kaus pesanan dari Aceh yang harus rampung dalam waktu dua minggu.

Jadi tawuran gara-gara kaus pesanan

Fauzi membangun bisnisnya ini dari sebuah gang kecil di Mampang pada pertengahan 1980-an. Berbekal pengalamannya membikin kaus kelas di Bandung, Fauzi pun nekat menyewa rumah kecil. Ia membuka usaha pembuatan kaus dengan modal Rp 2,8 juta. “Saya masih ingat, sewa rumahnya Rp 800.000 setahun,” tutur Fauzi.

Setelah itu, ia harus hidup berhemat dengan uang Rp 2 juta sisanya. Fauzi mengajak dua kawan untuk menjadi karyawan dan ikut mengerjakan seluruh proses pembuatan kaus, kecuali menjahit. “Saya beli mesin, saya potong sendiri, sablon sendiri, tapi saya enggak bisa menjahit,” katanya.

Bisnis pembuatan kaus ini ternyata cepat berkembang. Dalam seminggu, Fauzi bisa menggarap 100 potong kaus. “Dulu, saya cukup punya nama di antara anak-anak SMA itu,” kata Fauzi yang memilih sebutan Bandungprima untuk usaha pembuatan kausnya ini.

Menggarap kaus kelas pesanan anak SMA membawa pengalaman lucu bagi Fauzi. Sebut saja waktu ia menerima pesanan kaus dari STM Boedoet dan STM Penerbangan. Dua siswa sekolah itu tawuran lantaran bertemu muka ketika sama-sama mengambil kaus di rumah Fauzi. “Saya malah sampai dimintai keterangan oleh polisi segala,” ujar lelaki berusia 37 tahun ini sambil tertawa lebar.

Tapi, Fauzi tidak mau melulu bergulat dengan bisnis kaus kelas. Ia membuka pasar baru dengan mencari pelanggan perusahaan. Selama tiga tahun pertama, Fauzi rajin menawarkan sendiri kaus bikinannya ke banyak perusahaan. Pengalaman pahit menjadi bagian dari hidupnya. “Saya harus menunggu bagian purchasing selama berjam-jam. Terus kita dikasih waktu cuma lima menit. Itu pun mereka enggak jadi pesan,” kenang Fauzi. Alhasil, beberapa kali ia tertidur di atas sepeda motor di pelataran Monas. “Saya kecapekan, ya, tidur saja di situ,” katanya.

Aksi promosi door to door itu memang membuahkan hasil. PT Telkom menjadi klien pertama Fauzi. Kebetulan perusahaan ini dikejar waktu untuk membuat seragam Telkom Jakarta Selatan. Fauzi pun segera menyambarnya, kendati harus bekerja sama dengan koperasi karyawan di situ. “Nilainya Rp 50 juta. Waktu itu nilai segitu besar sekali,” ujarnya. Karena pesanan terus bertambah, Fauzi harus pindah ke Tebet untuk mendapatkan tempat yang lebih besar.

Nah, tahun 1993 Fauzi mengusung BEKaos pindah ke Condet. “Dulu, ini rumah orang Betawi asli yang kemudian bisa saya beli,” ujar Fauzi mengenai workshop-nya yang sekarang. Di sinilah, Fauzi menaruh puluhan mesin miliknya.

Emoh dianggap pengusaha plin-plan

Menurut Fauzi, berbisnis konveksi cukup unik. Pasalnya, si pengusaha harus tahu detail bahan baku dan produksinya. Fauzi merasa diuntungkan dengan bekal pengalaman selama di Bandung dan jaringan yang dimiliki di sana. “Saya jadi tahu, di mana bisa mencari bahan yang harganya miring, untuk disesuaikan dengan anggaran pemesan,” ujar Fauzi.

Sebagai pengusaha, Fauzi merasa dirinya enggak takut merugi. “Kalaupun rugi, saya harus belajar dari situ,” tegasnya. Fauzi mengakui beberapa kali dirinya pernah rugi besar. Kala menang tender, kerap kali hitungan bisnis sesungguhnya melesat jauh dari nilai tender. Pasalnya, harga bahan baku sering naik turun. Kalau harga bahannya kelewat tinggi, Fauzi berusaha menegosiasikan harga jual kepada pemberi order. Jika negosiasi gagal, ya sebisa mungkin ia tetap memenuhi kewajibannya. “Saya enggak mau kalau pelanggan bilang saya plin-plan,” cetusnya. Lebih lagi, dengan cara begini, kebanyakan pelanggan justru terkesan dan memesan lagi di lain waktu.

Pemain di bisnis konveksi jumlahnya ada ratusan ribu. Tapi, menurut Fauzi, ia tetap optimistis dengan kesempatannya meraih laba. Tiga bulan lalu, ia membuka bisnis konveksi di Batam. “Cukup lumayan kok responnya,” ujarnya. Menurut dia, masih banyak daerah yang menyimpan potensi pasar. “Prinsip saya, jangan takut memulai,” tandas Fauzi.

Fauzi justru khawatir dengan serangan konveksi dari China. Beberapa kali ia merasakan pahitnya serangan ini. Misalnya, niatnya memasok seragam ke Malaysia gagal karena kalah dengan produk China. “Saya ngeri sekali dengan produk mereka. Karena, harganya bisa jauh lebih murah,” ucap Fauzi. Padahal, sebelum tahun 2003, Fauzi banyak mengirimkan seragam dan pakaian jadi ke Malaysia dan Brunei.

Fauzi tidak mau sekadar berkutat di bisnis konveksi saja. Ia baru membuat OrbitCom yang bisnisnya periklanan dan event organizer. Ia juga berbisnis separator jalan, bekerja sama dengan kantor polisi di Jakarta. Untuk itulah, ia membikin tim pemasaran sendiri. “Tim pemasaran ini fleksibel, bisa ke BEKaos, bisa ke Orbit juga,” ujar Fauzi yang sekarang tidak perlu melepas lelah di pelataran Monas lagi.

5 thoughts on “Kisah Fauzi berbisnis konveksi”

  1. Assalamualaikum …
    wah hebat pa Fauzi ini,,… saya mahasiswa yang sangat tertarik dengan bisnis konveksi… dan sedikit banyak pa fauzi telah memberi informasi dan semangat bagi saya untuk sama-sama memulai bisnis konveksi ini…
    saya mau minta bocoran dongi pA, kalo ingin mendapatkan bahan-bahan yang murah dimana y pA? maklum lah mahasiswa modalnya cekak…
    mohon dijawab ya… makasih sebelumnya
    wassalam …

  2. @kakal
    memang hebat fauzi Cuma dia kerja keras juga loh . untuk bahan2 murah dapat dibeli di daerah jembatan besi ..tapi kalo sekarang beli belum tentu besok atau lusa bahannya masih ada kalo ada melakukan pembelian ulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s