JENIS-JENIS KAOS

JENIS-JENIS BAHAN KAOS

BERDASARKAN PROSES PEMBUATANNYA
a.WOVEN
Kain yang di buat dari hasil penyilangan dua benang dengan cara di tenun/ dianyam. Sering disebut kain tenun. Bahan woven cirinya tidak dapat di tarik.
b.KNIT
Kain yang dibuat dari jeratan – jeratan benang / mengaitkan benang dengan benang , sering di sebut kain rajut. Cirinya kain ini dapat di tarik atau elastis. Contoh dari kain rajut : jersey, interlock, rib, single jersey, tricot dll.

Berdasarkan spesifikasi benang:
1. COTTON
A. COTTON COMBED:
Serat benang lebih halus.
Hasil Rajutan dan penampilan lebih rata.
:B. COTTON CARDED
Serat benang kurang halus.
Hasil rajutan dan penampilan bahan kurang rata.

Sifat kedua jenis bahan tersebut bisa menyerap keringat dan tidak panas, karena bahan baku dasarnya adalah serat kapas.

2. TC (TETERTON COTTON)

Jenis bahan ini adalah campuran dari Cotton Combed 35 % dan Polyester (Teteron) 65%. Dibanding bahan Cotton, bahan TC kurang bisa menyerap keringat dan agak panas di badan. Kelebihannya jenis bahan TC lebih tahan ’shrinkage’ (tidak susut atau melar) meskipun sudah dicuci berkali-kali.

3. CVC ( COTTON VISCOSE)

Jenis bahan ini adalah campuran dari 55% Cotton Combed dan 45% Viscose. Kelebihan dari bahan ini adalah tingkat shrinkage-nya (susut pola) lebih kecil dari bahan Cotton. Jenis bahan ini juga bersifat menyerap keringat.

4. POLYESTER dan PE

Jenis bahan ini terbuat dari serat sintetis atau buatan dari hasil minyak bumi untuk dibuat bahan berupa serat fiber poly dan yang untuk produk plastik berupa biji plastik. Karena sifat bahan dasarnya, maka jenis bahan ini tidak bisa menyerap keringat dan panas dipakainya.

JENIS BENANG

Pentingnya mengetahui tentang benang atas bahan kaos yang kita kehendaki adalah berkaitan dengan ketebalan atau gramasi bahan kaos itu sendiri.

1. BENANG 20S

Biasanya dipakai apabila kita menghendaki ketebalan atau gramasi bahan kaos atara 180 sampai dengan 220 Gram/Meter persegi untuk jenis rajutan Single Knitt.

2. BENANG 24S

Biasa dipakai apabila kita menghendaki ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 170 sampai dengan 210 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Single Knitt.

3. BENANG 30S

Biasa dipakai apabila kita menghendaki ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 140 sampai dengan 160 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Single Knitt atau Gramasi 210 sampai dengan 230 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Double Knitt.

4. BENANG 40 S

Biasa dipakai apabila kita menghendaki ketebalan atau gramasi bahan kaos antara 110 sampai dengan 120 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Single Knitt atau Gramasi 180 sampai dengan 200 Gram / meter persegi untuk jenis rajutan Double Knitt.

JENIS RAJUTAN

1. SINGLE KNITT (Contoh. Combed 20’S, S nya adalah single knitt)
Pengertian teknisnya adalah rajutan jarum single.
Penggunaan hanya satu permukaan atau tidak bisa dibolak-balik (2 permukaan).
Jenis rajutan rapat, bahan padat, kurang lentur (stratching).
Sebagian besar produk kaos yang ada di pasaran adalah memakai jenis rajutan Single Knitt.
2. DOUBLE KNITT (Contoh. Combed 20’D, D nya adalah double knitt)
Pengertian teknisnya adalah rajutan Jarum Double.
Sehingga penggunaannya bisa dibolak-balik (atas bawah tidak masalah).
Jenis rajutan tidak rapat, bahan kenyal, lembut, dan lentur.
Produk kaos yang biasa memakai rajutan jenis ini adalah pakaian untuk bayi (baby) dan anak-anak (Kid’s). Ada sebagian orang menyebut bahan ini dengan sebutan Interlock.
3. LACOSTE
Pengertian teknisnya adalah rajutan texture / corak.
Penggunaan tidak bisa dibolak-balik.
Jenis rajutan bertexture, bulat, kotak, atau menyerupai segitiga kecil-kecil.
Sebagian orang ada yang menyebut bahan ini Pique atau Cuti, dan hanya lazim digunakan untuk Polo Shirt atau Kaos Kerah.
4. STRIPER atau YARN DYE
Pengertian teknisnya adalah rajutan kombinasi benang warna (Yarn Dye).
Penggunaan tidak bisa di bolak-balik.
Jenisnya bisa Single Knitt maupun Double Knitt.
Finishing harus openset / belah.
Orang awam menyebut bahan ini dengan sebutan bahan salur / warna-warni. Biasa digunakan untuk produk kaos dewasa (Pria, Wanita, T-Shirt, maupun Polo Shirt).
5. DROP NEEDLE
Pengertian teknisnya adalah rajutan dengan variasi cabut jarum.
Penggunaannya bisa di bolak-balik.
Jenis rajutan texture garis lurus vertikal, lembut, dan lentur.
Produk kaos ini banyak digunakan untuk Rib Leher (T-Shirt), Ladies T-Shirt Body Fit, dan kaos singlet.

FINISHING

Jenis finishing bahan kaos disini berkaitan dengan lebar bahan kaos yang dikehendaki yang berkaitan dengan kebutuhan efisiensi pola / marker. Finishing juga berkaitan dengan kebutuhan akan handfeel / pegangan bahan kaos.

1. TUBULAR/BULAT

Bentuk bahan kaos disini adalah bulat melingkar (seperti sarung) untuk bahan Cotton disebut Callendar, sedangkan untuk Non-Cotton disebut Setting. Jenis bentuk finishing bahan kaos seperti ini yang paling banyak dipakai oleh para produsen garment / Clothing Company.

2. OPENSET/FINISH BELAH

Bentuk bahan kaos yang di openset adalah sudah dibelah melebar / horizontal. Kelebihan dari finishing ini adalah serat bahan jadi lebih lurus dan shrinkage (susut kain) lebih halus. Jenis finishing ini banyak digunakan untuk produk kaos yang mengutamakan mutu, merk branded / ternama, dan kualitas export.

3. MERCERIZED/NON MERCERIZED

MERCERIZED:
jenis finishing yang membuat serat bahan kaos jadi lebih rapat, warna lebih cerah, shrinkage lebih bagus, dan handfeel lebih keras. Contoh untuk jenis bahan ini banyak dipaai oleh produsen kaos lokal seperti: Metalizer, Cressida, IE-BIE, Dadung, Dagadu, Sinergy, BE-HOT, dan lainnya.

NON MERCERIZED:
Adalah jenis finishing yang mengutamakan handfeel atau pegangan yang soft dan lentur. Contoh produk kaos yang memakai bahan jenis ini: Billabong, Quicksilver, Giordano, dan sebagian besar produk pakaian anak-anak dan bayi.

4. BIO ENZYM dan BIO COMPACT

Jenis finishing ini merupakan inovasi dari Non Mercerized. Sebenarnya kedua jenis finishing ini secara teknis bersifat merapuhkan permukaan bahan kaos dengan semacam bakteri. Yang didapatkan adalah penampilan bahan jadi super lembut, bulunya jadi halus dan warna lebih cerah. Kelemahan bahan ini adalah tidak awet. Tetapi konsumen produk kaos jenis ini tidak mengutamakan keawetan kaos melainkan gengsi, karena produk ini umumnya merek terkenal dan mahal seperti : Billabong, Rusty, Ocean Pasific, Rip Curl, No Fear, dan lainnya.

5. ROTARY PRINT

Jenis finishing bahan kaos ini yang dimaksud adalah bahan kaos yang sudah dalam bentuk printing / sablon sebelum di cutting. Proses printingnya memakai mesin rotary sehingga dinamakan rotary print. Jenis bahan kaos ini banyak dipakai oleh produsen garment anak-anak dan wanita.

referensi : dbx

Obin: Handmade gems, but don’t use the ‘e’ word

Sunday, November 02, 2003
Hera Diani, The Jakarta Post, Jakarta

There is always a treat in store at the fashion shows of noted cloth designer Obin. Aside from the expected array of beautiful traditional cloth and the tasty spread of local cuisine served before the show, there is quirkiness and theatricality in the presentation.
Last week’s show included child singer Tina Toon strutting down the 40-meter catwalk connecting two stages, doing her version of the “drilling” dance moves of popular singer Inul Daratista.
What distinguishes Obin’s show from other “look-at-me” local fashion presentations is that the combined effect of a plump 10-year-old girl performing a very adult dance, the stage props and the models’ theatrical moves never seemed forced or pretentious.
All of it came together to highlight the real star of the show — the stunning cloth, all of which is handmade.
Derived from traditional sources, the cloths are woven, embroidered, stitched-dyed, tie-dyed, smocked and ripped, before Obin’s BIN House turns them into excellent sets for women, men, bridal and kids.
The latter was the reason Tina was on stage in the first place.
“I want to reject the sense of wearing (traditional) cloth, that it’s not merely for occasions like a wedding party. It doesn’t mean that it’s a drawback for us (to wear it), it aims at going back to our habitat, our culture,” Obin, or Josephine Werratie Komara, told a media conference prior to the show.
In her own everyday wear of kebaya (traditional blouse) and kain (cloth wrap), the 48-year-old master of batik and other indigenous textiles said she felt offended when her compatriots called her style “ethnic”.
“Ball gowns or tuxedo are considered classic, but why is the kebaya called ethnic? If foreigners call it ethnic, fine. But it’s strange when Indonesians call it the same. Because this outfit is classical Indonesian,” said Obin, who has been working with traditional cloth since 1975 and whose boutiques are found in Japan, Taiwan, Singapore, Hong Kong and the Netherlands.
In a less colossal presentation than last year’s, the show called Matahati (conscience) brought to the stage some 200 sets of clothes, made up of around 600 pieces of 300 different types of cloth.
If last year’s collection consisted of stonewashed jeans, poncho blouses and bustiers aside from the mainstay kebaya, this year’s women collection weighed in with a more elegant assortment.
It consisted of old-school kebaya, cheongsam and their modification, as well as contemporary gowns.
There were blouses inspired by the Balinese classical kebaya, while another derived from Javanese or even European style, with ruffles on the wrist and along the collar and front.
Obin also took some inspiration from Muslim dress, as well as more contemporary fashion applied in long tube dress, or evening gowns.
Some outfits followed the curve of women’s bodies, but others were straight or even asymmetrical in cut. The motifs were stripes, geometrical, floral or plaid.
Obin and her main designer Cita never follow a particular fashion trend, as Obin said being fashionable was far more important than fashion.
“It will last longer,” she said, emphasizing that all of the handmade designs were “made with heart, by workers that are more deserving of being called artisans.”
All of the dresses were accompanied by shawls, which are modified from traditional batik to ikat weavings or jumputan dye. Some shawls were a combination of different techniques, looking like patchwork, drapery or even wool.
They all came rich in motifs, texture and colors, the latter earthy and natural — bottle green, purple, brown, red and all — and carefully and beautifully combined. A standout was a baby pink kebaya with aquamarine scarf, mixed with matching kain, for a very pretty effect.
As for the men’s collection, the main inspiration was baju koko Muslim dress, with the modification in the details, such as the side pocket or the collar — Chinese style or asymmetric.
“We also just come up with a new technique, making long trousers from handwoven cloth. After six years observation, only now have we succeeded in making creased and neat trousers,” Obin said.
Although she has been producing wedding dresses for years, the show last week was the first to include a bridal sequence.
The collection comprises an all-white wedding dress, made up of different styles: Kebaya, cheongsam and Western-style wedding dress. There was also one design that was accompanied by a burqa-inspired veil, very elegant and beautiful.
The show also marked the launching of a kids and teens collection, ranging from two years to 17.
The children looked very cute in fluffy dresses, tunics, spaghetti strap dresses or even the kebaya and kain.
The latter idea, according to Obin, came as she found quality ready-to-wear children’s collections expensive, although it is doubtful that her excellent designs will be cheaper.
The main purpose is to familiarize the younger generation with traditional cloth.
“Traditional cloth is very good in quality, very old and very rich. Parents will not have to worry that children will not be comfortable wearing it. All of my children have been wearing kain since an early age, it’s fine,” she said.
“Today’s children won’t be familiar with traditional cloth when they grow up. But it’s not too late to introduce them to it now.”

T-shirt

done1.jpg wht.jpg lasttrip.jpglasttrip.jpg

<> boozerbig.jpg<>

crit2.jpg

biruxr9.jpg

merahth4.jpg

putihjy7.jpg

yen1qg5.jpg

SEJARAH T-SHIRT

alam sejarahnya, T-shirt bukan bagian dari dunia fashion (atau mari katakanlah, dunia berpakaian secara baik). Pada awalnya, T-shirt hadir sebagai baju “daleman” para anggota U.S. Navy untuk melindungi bulu dada mereka (hahaha). Ada beberapa pabrikan yang kemudian mulai membuatnya sebagai produk yang lebih massal, tapi itu pun belum menjadi sebuah pakaian pantas pakai sehari-hari (Scott Fresner, 1995).

Adalah seorang Clark Gable yang kemudian dianggap sebagai penyebar virus T-shirt ini. Juga ada nama-nama seperti Marlon Brando, James Dean, dan sang “Raja” Elvis Presley diawal-awal karirnya.

Perlahan namun pasti, T-shirt mulai menjadi bagian dari busana keseharian yang tidak hanya dipakai untuk daleman, tetapi juga menjadi pakaian luaran. Pada pertengahan tahun 50an, T-shirt sudah mulai menjadi bagian bagian dari dunia fashion. Namun baru pada tahun 60an ketika kaum hippies mulai merajai dunia, T-shirt benar-benar menjadi state of fashion itu sendiri. Sebagai sebuah simbol (lagi-lagi) anti kemapanan, para hippies ini menggunakan T-shirt sebagai salahsatu simbolnya.

Semenjak saat itulah revolusi T-shirt terjadi secara total. Para penggiat bisnis menyadari bahwa T-shirt dapat menjadi medium promosi yang amat efektif serta efesien. Segala persyaratan sebagai medium promosi yang baik ada di T-shirt. Murah, mobile, fungsional, dapat dijadikan suvenir, dan seterusnya.

Disaat yang bersamaan, kelompok-kelompok tertentu macam hippies, komunitas punk, atau organisasi politik, juga menyadari bahwa T-shirt dapat menjadi medium propaganda yang sempurna selain medium yang telah ada. Statement apapun dapat tercetak diatasnya, tahan lama, dan penyebarannya mampu melewati batas-batas yang tidak dapat dicapai oleh medium lain, seperti poster misalnya.

Dengan segala kesempurnaannya, T-shirt tidak lagi menjadi sederhana. Jelas, secara fungsional benda tersebut masih berlaku sebagai sebuah sandang. Namun dibalik itu semua, T-shirt memiliki value yang melebihi dari fungsi dasarnya.

Sebagai media promosi, medium ini benar-benar dimanfaatkan secara maksimal hingga pada titik yang tak terbayangkan sebelumnya. Kini, konsumen dapat dengan bangga membeli T-shirt dengan logo sebuah produk tertera diatasnya kemudian dipakainya. Artinya, dia secara langsung membeli untuk mempromosikan produk yang bersangkutan secara sukarela (tentu saja orang tersebut tidak akan mendapatkan bayaran sepeser pun untuk itu).

Selain menjadi sebuah citraan, T-shirt jelas menjadi pengantar dari citra / image yang ampuh. Ketika diproduksi secara massal, T-shirt mampu melakukan konstruksi atas citra tertentu.

Siapa yang tidak mengenal Che Guevara? Generasi muda sekarang pun banyak yang mengenalnya, bahkan para Slemania alias fans club dari klub sepakbola kota Sleman menggunakan ikon Che sebagai ikon mereka. Terpampang jelas di T-shirt fans club wajah gagah Che Guevara.

Bisa jadi, bagi generasi muda sekarang lebih mengenal Che Guevara yang ada di T-shirt daripada dari sumber lain seperti film atau buku. Atau setidaknya mereka mengenal sekilas sebagai sebab akibat mereka memiliki atau tertarik untuk memiliki T-shirt Che.

Perang visual melalui medium T-shirt ini menjadi sesuatu yang menarik. Saat ini mungkin kita sudah tak lagi heran ketika menemukan logo MTV tertera pada sebuah T-shirt yang diletakkan diemperan bersama T-shirt berlogo semacam Levis, Coca cola, Slank, atau bahkan “Si Wajah Pribumi” Iwan Fals. Siapa sangka, si Benyamin pun sekarang ikut serta dalam perang ikon T-shirt dikalangan muda saat ini.

Kekuatan T-shirt sebagai medium pengantar pesan visual hampir setara dengan kekuatan televisi. Kemudian, yang menjadikannya menarik untuk terus ditilik adalah; “siapa menguasai siapa”. Ketika T-shirt bisa menjadi sebuah ikon identitas atau bahkan identitas itu sendiri, maka bisa jadi si pemakai sesungguhnya telah terjajah oleh apa yang ia pakai. Layaknya ketika realitas Tv telah merangsek kedalam realitas keseharian.

Sejarah T-Shirt di Indonesia

Dulu benda ini yang tidak jelas siapa penemunya ini hanya dipakai sebagai pakaian dalam oleh kaum pria. Ketika itu warna dan bentuknya (model) itu-itu melulu. Maksudnya, benda itu berwarna putih, dan belum ada variasi ukuran, kerah dan lingkar lengan.

T-shirt alias kaos oblong ini mulai dipopulerkan sewaktu dipakai oleh Marlon Brando pada tahun 1947, yaitu ketika ia memerankan tokoh Stanley Kowalsky dalam pentas teater dengan lakon “A Street Named Desire” karya Tenesse William di Broadway, AS. T-shirt berwarna abu-abu yang dikenakannya begitu pas dan lekat di tubuh Brando, serta sesuai dengan karakter tokoh yang diperankannya. Pada waktu itu penontong langsung berdecak kagum dan terpaku. Meski demikian, ada juga penonton yang protes, yang beranggapan bahwa pemakaian kaos oblong tersebut termasuk kurang ajar dan pemberontakan. Tak pelak, muncullah polemik seputar kaos oblong.

Polemik yang terjadi yakni, sebagian kalangan menilai pemakaian kaos oblong – undershirt – sebagai busana luar adalah tidak sopan dan tidak beretika. Namun di kalangan lainnya, terutama anak muda pasca pentas teater tahun 1947 itu, justru dilanda demam kaos oblong, bahkan menganggap benda ini sebagai lambang kebebasan anak muda. Dan, bagi anak muda itu, kaos oblong bukan semata-mada suatu mode atau tren, melainkan merupakan bagian dari keseharian mereka.

Polemik tersebut selanjutnya justru menaikkan publisitas dan popularitas kaos oblong dalam percaturan mode. Akibatnya pula, beberapa perusahaan konveksi mulai bersemangat memproduksi benda itu, walaupun semula mereka meragukan prospek bisnis kaos oblong. Mereka mengembangkan kaos oblong dengan pelbagai bentuk dan warna serta memproduksinya secara besar-besaran. Citra kaos oblong semakin menanjak lagi manakala Marlon Brando sendiri – dengan berkaos oblong yang dipadu dengan celana jins dan jaket kulit – menjadi bintang iklan produk tersebut.

Mungkin, dikarenakan oleh maraknya polemik dan mewabahnya demam kaos oblong di kalangan masyarakat, pada tahun 1961 sebuah organisasi yang menamakan dirinya “Underwear Institute” (Lembaga Baju Dalam) menuntut agar kaos oblong diakui sebagai baju sopan seperti halnya baju-baju lainnya. Mereka mengatakan, kaos oblong juga merupakan karya busana yang telah menjadi bagian budaya mode.

Demam kaos oblong yang melumat seluruh benua Amerika dan Eropa pun terjadi sekita tahun 1961 itu. Apalagi ketika aktor James Dean mengenakan kaos oblong dalam film “Rebel Without A Cause”, sehingga eksistensi kaos oblong semakin kukuh dalam kehidupan di sana.

Di Indonesia, konon, masuknya benda ini karena dibawa oleh orang-orang Belnda. Namun ketika itu perkembangannya tidak pesat, sebab benda ini mempunyai nilai gengsi tingkat tinggi, dan di Indonesia teknologi pemintalannya belum maju. Akibatnya benda ini termasuk barang mahal.

Namun demikian, kaos oblong baru menampakkan perkembangan yang signifikan hingga merambah ke segenap pelosok pedesaan sekitar awal tahun 1970. Ketika itu wujudnya masih konvensional. Berwana putih, bahan katun-halus-tipis, melekat ketat di badan dan hanya untuk kaum pria. Beberapa merek yang terkenal waktu itu adalah Swan dan 77. Ada juga merek Cabe Rawit, Kembang Manggis, dan lain-lain.

Selanjutnya, tidak hanya di Amerika dan Eropa, di Indonesia pun kaos oblong sudah menjadi media berekspresi. Kaos oblong yang berwarna putih itu diberi gambar vinyet, dan waktu itu sempat menjadi tren/mode di kalangan anak muda Indonesia. Tapi tidak lama. Berikutnya vinyet digeser oleh tulisan-tulisan yang berwarna-warni. Tekniknya sepeprti sablon. Selain itu, ada juga gambar-gambar koboi, orang-orang berambut gondrong, dan lain-lain. Warna bahan kaos oblong pun sudah semarak, yaitu merah, hitam, biru kuning. Dan, tren kaos oblong rupa-rupanya direkam pula oleh Kartunis GM Sudarta melalui tokoh Om Pasikom dan kemenakannya dengan tajuk “Generasi Kaos Oblong” (Harian Kompas, 14 Januari 1978).

Oscar Lawalata: ‘Concubine’ show a jaded variation on a theme

Sunday, March 21, 2004
Hera Diani, The Jakarta Post, Jakarta

Remove from the equation the acrobatic martial arts performance, the singing diva and the crimson and gold ornaments from the recent couture show of designer Oscar Lawalata — and what have you got?
The long and short of it were clothes barely distinguishable from one another. Drapery-like, baby doll, or with a empire line, the basic construction was identical, making the collection a monotonous stream of the same act.
At the end, there was the unfortunate question if Oscar’s latest collection — themed “The Last Concubine, Dying Gracefully — lived up to the couture definition at all.
Couture presents a highly artistic but still wearable collection which is the harbinger of the next trend, something not evident in this collection. It was disappointing as Oscar, despite his relatively young age, has long been regarded as one of the country’s most promising designers.
He made his breakthrough when he finished second at an international design competition in Singapore in 1999, a prodigy on the fashion scene at the age of 22.
His subdued, ethnic-influenced ready-to-wear designs earned him recognition, leading to the establishment of the first line OSCAROSCAR, OSCAROSCAR and a division for uniform design in his name.
OSCARCOUTURE made its debut three years ago, presenting a modern, daring and gleaming fashion collection with floral-shaped sequined patterns adorned over fine cloth, such as chiffon and lace.
While the first couture collection emphasized loose, draping patterns, the new collection is more sensual and follows the curves of women’s bodies.
Oscar was smart enough not to jump completely into cheongsam and classic Chinese dress, but instead only used both elements in the pattern making technique.
Most were layered ballet skirts with flared and asymmetric lines, and bustiers with modifications. Instead of satin, tulle dominated the collection, giving a light, fluffy effect.
Colors ranged the gamut: subdued pink and green, bright hues (shocking pink, bright red, orange) to simple black and brown.
No motifs were involved, only paillette, embroidery and sequins — in floral, as details.
Several items of men’s wear were presented, mostly inspired by the Chinese suit and in brown and blue.
There were also a few pieces from Oscar’s newest line O2L, a ready-to-wear collection aimed at “cosmopolitan, dynamic and stylish” young people.
But the show was really about the couture line, which was supposed to be glamorous and elegant, but instead showed the stagnation in the young designer’s creativity.
Although it could not be called a rip off of other collections or unoriginal, it failed to inspire, and could not even be called good. It was particularly disappointing because the local fashion scene has singled him out for particular praise.
It seemed that Oscar is another example of a prodigy who veers into realm of the celebrity and gets lulled into a sense of complacency by all the hype.
With his stunning, androgynous look, long thick hair and a beautiful face, he occasionally takes to the catwalk himself and is a regular on the party scene. And perhaps the sideline stuff of celebrity overshadows his talent and profession as a designer.
There is no denying Oscar has an undeniable strength in marketing and image building. He always manages to create a show that is packaged with a flair for the extravagant.
The first couture presentation, for instance, was held at the swimming pool of the Bung Karno Sports Stadium in Central Jakarta.
There, some 50 designs, including men’s wear, were displayed on a runway built around the pool, with entertainment of dancing, singing, diving and water ballet included, and capped off with a fireworks display.
His tie-dye collection was displayed at the artistic Gedung Dua8 in Kemang, South Jakarta, as well as the office of a radio station.
This most recent couture show relied on a theatrical show combining fashion, music and dance. There were wushu martial arts athletes, Titi DJ singing the Mandarin version of her Sang Dewi (The Goddess) and rhythmic dancers.
Unfortunately, even the performances came off as pretentious and unenjoyable.
Thanks to his image, big corporations were willing to be sponsors of his show, including a luxury car company, a department store and an upmarket apartment.
Fashionistas and the city’s cr‚me de la cr‚me swarmed the arena for all that Oscar had to offer.
Unfortunately, the cloak of glamor and high-powered hype could not cover the fact that the creativity quotient was sorely lacking.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 38 other followers